“SEJUMPUT HARAPAN”

mk4

Berdiri tegak mencakar langit
Bersinar menerangi gelapnya malam

Dia kokoh bukan karena pilarnya
Dia indah bukan pula karena ornamennya

Sembilan Dewa menjadi ruh raganya
Ratusan Kurcaci mengisi relung jiwanya

Dia bermartabat karena kedudukannya
Dia akan dimuliakan hanya karena putusannya

Namun …

(more…)

RAMADHAN DI INDIA

(Tulisan lepas oleh Pan Mohamad Faiz)

 

rama4Bagi umat Muslim di seluruh dunia, bulan Ramadhan adalah bulan yang amat teristimewa. Di bulan suci inilah segala amalan perbuatan akan dilipatgandakan pahalanya. Berpuasa, tarawih, tadarus Al-Quran, membayar Zakat, dan ibadah keutamaan lainnya menjadi aktivitas yang mendatangkan barakah mulia.

Tentunya setiap umat Muslim mempunyai cara dan pengalaman yang berbeda dalam menjalani bermacam ibadah dan muamalah selama Ramadhan. Sebagian di antaranya bahkan memiliki kebiasaan dan pengalaman berkesan ketika dirinya menjalani ibadah puasa di negeri orang lain. Marilah kita tengok sejenak, misalnya, pengalaman Ramadhan dari para mahasiswa dan masyarakat Indonesia yang menempuh pendidikan di negara India, “Negeri Gandhi” dengan sejuta pesona keragamannya.

(more…)

KONSTITUSI DAN AKTIVISME YUDISIAL

Oleh: Pan Mohamad Faiz*

Sumber: Kolom Opini Jurnal Nasional – Selasa, 25 Agustus 2009 

JudicialActivismBelum lama ini, tepatnya pada tanggal 18 Agustus, masyarakat Indonesia baru saja memperingati “Hari Konsitusi” untuk kali pertamanya. Peringatan Hari Konstitusi tersebut setidaknya memberikan gambaran bahwa UUD 1945 dan cita konstitusionalisme semakin diteguhkan sebagai sumber hukum tertinggi dan pedoman dasar dalam kehidupan bernegara.

Walaupun UUD 1945 telah dibentuk 64 tahun yang lalu, namun fase kehidupan dan kesadaran berkonstitusi warga negara terbentuk begitu pesat baru dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini. Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan konstitusionalisme tersebut tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat. Pertama, wujud pelaksanaan hasil amandemen UUD 1945 yang diubah pada 1999-2002; Kedua, munculnya puluhan lembaga kajian konstitusi; dan Ketiga, adanya sentuhan yudisial dari pengadilan konstitusi (baca: Mahkamah Konstitusi).

Dalam konteks terakhir, Upendra Baxi menyatakan bahwa pada negara-negara pasca-sosialis atau transisi, seperti misalnya Rusia, Polandia, dan Hungaria, mereka telah berhasil membumikan ruh konstitusinya melalui aktivisme yudisial (judicial activism). Aktivisme demikian terinspirasi dari makna filosofis penafsiran konstitusi yang memandang konstitusi bukan sekedar katalog peraturan hukum, namun lebih sebagai pernyataan prinsip-prinsip pemerintahan konstitusional yang wajib dijalankan.

(more…)

MELIHAT NEGERI NAGA DAN GAJAH

BrainDrainTenaga-tenaga ahli Indonesia banyak yang tertarik bekerja di luar negeri.Agar Indonesia tidak mengalami kekurangan tenaga ahli, atmosfer lingkungan kerja yang lebih kondusif harus dibangun.

Anak muda yang baru lulus kuliah dianggap memiliki idealisme tinggi. Mereka biasanya haus akan pengetahuan baru dan sangat ingin mempraktikkan ilmu yang sudah didapat dalam kehidupan nyata sehari- hari. Demikian juga anakanak Indonesia yang berhasil meraih gelar master, doktor, hingga profesor dari perguruan tinggi di luar negeri.

Mereka masih memiliki idealisme untuk menyumbangkan ilmu demi membangun masyarakat. Sejatinya jika ada ruang untuk berekspresi dan mengembangkan diri,para tenaga ahli akan memilih bekerja dan tinggal di dalam negeri bersama sanak saudara. Sebagaimana pepatah, seenak-enaknya hidup di negeri orang, masih enak di negeri sendiri.

Sayangnya, lingkungan kerja di dalam negeri belum cukup kondusif sehingga mereka lebih memilih hengkang dan berkompetisi dalam bursa kerja global. Maraknya tenaga ahli yang bekerja di luar negeri (brain drain) tidak selalu berkonotasi negatif. Menurut Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Soemantri, dengan bekerja di luar negeri, mereka akan meniti karier dan menimba pengalaman sebanyak- banyaknya sehingga sekembalinya ke Indonesia mereka bisa menyumbangkan ilmu mereka bagi pembangunan bangsa.

(more…)

brain_drain3SETITIK ASA UNTUK CENDEKIA

Sudah bukan rahasia lagi, di era globalisasi ini, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kerap dijadikan panglima oleh sejumlah negara untuk maju. Siapa yang menguasai iptek,bakal menguasai dunia.

Sejumlah negara yang memperhatikan iptek mengalami kemajuan yang luar biasa. Sebut saja sejumlah negara Asia yang saat ini diperhitungkan dunia seperti Korea Selatan,India, Jepang,China,dan Pakistan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendefinisikan profesi peneliti dengan insan yang memiliki kepakaran yang diakui dalam suatu bidang keilmuan.

Dengan kepakaran itulah mereka diharapkan memberikan sumbangan yang sangat berarti. Saat ini dari segi jumlah, peneliti Indonesia masih kurang. Menurut data per 31 Maret terdapat 7.673 peneliti yang terdiri atas 1.819 peneliti pertama, 2.146 peneliti muda, 2.666 peneliti madya, 777 peneliti utama,dan 265 profesor riset. Dibanding penduduk Indonesia, jumlah tersebut tentu sangat sedikit.

Beberapa institusi bahkan menyatakan bahwa tidak ada yang berminat untuk menjadi peneliti sehingga rekrutmen dilakukan dari kalangan PNS yang ada. Melihat jumlah yang kecil baik dari kuantitas maupun kualitas tampaknya untuk mencetak profesi peneliti bukalah hal yang mudah.

(more…)

Next Page »