[NEWS] Bagian IV: Melihat Negeri Naga dan Gajah


MELIHAT NEGERI NAGA DAN GAJAH

BrainDrainTenaga-tenaga ahli Indonesia banyak yang tertarik bekerja di luar negeri.Agar Indonesia tidak mengalami kekurangan tenaga ahli, atmosfer lingkungan kerja yang lebih kondusif harus dibangun.

Anak muda yang baru lulus kuliah dianggap memiliki idealisme tinggi. Mereka biasanya haus akan pengetahuan baru dan sangat ingin mempraktikkan ilmu yang sudah didapat dalam kehidupan nyata sehari- hari. Demikian juga anakanak Indonesia yang berhasil meraih gelar master, doktor, hingga profesor dari perguruan tinggi di luar negeri.

Mereka masih memiliki idealisme untuk menyumbangkan ilmu demi membangun masyarakat. Sejatinya jika ada ruang untuk berekspresi dan mengembangkan diri,para tenaga ahli akan memilih bekerja dan tinggal di dalam negeri bersama sanak saudara. Sebagaimana pepatah, seenak-enaknya hidup di negeri orang, masih enak di negeri sendiri.

Sayangnya, lingkungan kerja di dalam negeri belum cukup kondusif sehingga mereka lebih memilih hengkang dan berkompetisi dalam bursa kerja global. Maraknya tenaga ahli yang bekerja di luar negeri (brain drain) tidak selalu berkonotasi negatif. Menurut Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar Rusliwa Soemantri, dengan bekerja di luar negeri, mereka akan meniti karier dan menimba pengalaman sebanyak- banyaknya sehingga sekembalinya ke Indonesia mereka bisa menyumbangkan ilmu mereka bagi pembangunan bangsa.

Namun, jika sampai mengakibatkan Indonesia kekurangan tenaga ahli, itu bisa menjadi negatif. “Minimnya lingkungan yang kondusif bagi mereka untuk mengembangkan diri masih ditambah minimnya penghargaan sosial, budaya, dan material yang tidak memadai.Itulah penyebab banyak tenaga ahli kita yang lebih suka bekerja di luar negeri,” ujarnya kepada Seputar Indonesia.

Dengan modal idealisme biasanya anak-anak bangsa yang memiliki kepakaran tersebut akan terus mencari lingkungan yang mendukung bagi mereka untuk berkembang. Menurut Gumilar, orangorang “cemerlang”ini butuh arena untuk kegiatan riset, diskusi, sarana perpustakaan, laboratorium yang memadahi, dan lainnya. Selain itu,sebagai mereka juga membutuhkan kesejahteraan yang layak untuk kehidupan diri dan keluarga mereka.

“Belum adanya tradisi akademik di dalam negeri membuat mereka lebih tertarik untuk ke luar negeri. Mereka butuh tempat untuk mengembangkan diri,” ungkapnya. Untuk itu,menurut dia,perlu peran semua pihak untuk menciptakan lingkungan yang lebih memberi penghargaan sosial, budaya, maupun material kepada para tenaga ahli.

Dari sisi sosial, baik pemerintah, kalangan bisnis,maupun stakeholder lainnya harus mulai memberikan penghargaan yang layak. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan di dalam negeri yang lebih bangga menggunakan jasa tenaga asing ketimbang tenaga lokal. Padahal keahliannya sama saja,bahkan bisa jadi tenaga lokal lebih handal.

Kemudian dari sisi budaya, harus mulai dibangun budaya akademik yang kondusif. Tidak hanya pemerintah, lembaga pendidikan, hingga kalangan bisnis. Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadahi, mulai dari laboratorium, perpustakaan,kemudahan izin penelitian,dan sarana publikasi.

Pemerintah pun harus mulai berpikir membuat desain skema riset yang lebih terintegrasi dan pendanaan lebih memadai. Sementara kalangan bisnis sudah mulai harus belajar tidak hanya menjadi industri perdagangan, tapi mulai mengembangkan industri dari hulu ke hilir sehingga bisa memanfaatkan hasil-hasil riset karya anak bangsa.“Sementara secara material mereka layak mendapatkan penghargaan, ”tandasnya.

Bangun Lingkungan Akademik

Gumilar mengaku, UI sebagai salah satu lembaga pendidikan tertua di negeri ini sudah mulai membangun iklim akademik yang kondusif. Di antaranya menargetkan pembangunan perpustakaan dengan lima juta judul buku. Perpustakaan UI berambisi untuk menjadi salah satu perpustakaan terbesar di dunia.Tidak hanya itu,staf pengajar UI yang ingin melakukan riset akan dibantu pendanaan meskipun lokasi penelitian di luar negeri. Untuk masalah remunerasi,gaji pegawai di UI ditingkatkan secara signifikan.

Sebagai contoh, gaji seorang dosen inti di UI bisa mencapai Rp15 juta.Tidak hanya itu, kini UI ingin berusaha menepis ancaman bahwa tenaga ahlinya dibajak lembaga- lembaga pendidikan lain di luar negeri.Tidak sedikit tenaga pengajar yang direkrut UI dari lembagalembaga lain. “Bahkan saya berani katakan, kita sudah lebih kompetitif dibandingkan Malaysia.

Kini bukan SDM kita yang dibajak. Jika perlu, kita yang membajak tenaga mereka,”ujarnya. Senada diungkapkan oleh Rektor Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Nur Ahmad Fadhil Lubis. Menurut dia, kini dunia semakin tanpa batas sebagai akibat globalisasi sehingga peranan negara dalam menghentikan arus pergerakan tenaga-tenaga ahli ke luar negeri semakin kecil.

Apalagi bursa tenaga kerja global menuntut lingkungan yang kompetitif sehingga mampu bersaing dengan negara lain. “Jika melihat keahlian mereka tidak terpakai di dalam negeri sangat menyedihkan. Saya memiliki banyak teman di Amerika Serikat yang bekerja di industri penerbangan. Dalam karier mereka bisa mengembangkan diri dan berkompetisi optimal.

Sementara ada pula kawan saya yang kembali ke Indonesia. Namun, keahliannya tidak terpakai di sini. Sayang sekali,” kisahnya. Globalisasi sangat mendukungfenomena brain circulation, yakni para ahli akan mencari tempat paling kondusif bagi dirinya untuk berkembang.

Konteks seorang peneliti, dia akan mencari tempat di mana dia akan bisa meneliti maksimal dan memenuhi kepuasan batinnya yang haus akan pengetahuan. Menurut Fadhil, Pemerintah India telah menyadari hal ini jauh-jauh hari. Untuk itulah sedari awal Pemerintah Negeri Sungai Gangga itu mendorong masyarakatnya untuk berlombalomba belajar di bidang teknologi informasi dan kesehatan.

Saat ini India telah memetik hasilnya. Pakar-pakar TI India menguasai bursa tenaga kerja global. “Meskipun warga masyarakat India banyak yang bekerja di luar negeri, mereka masih memiliki rasa cinta dengan negerinya. Demikian pula dengan tenaga ahli Indonesia yang berada di luar negeri. Mereka tidak akan lupa dengan tanah airnya.” ujarnya.

Tidak hanya itu, tenaga ahli Indonesia di luar negeri akan bertugas sebagai duta bangsa yang tidak dibayar. Apabila mereka berprestasi di luar negeri,nama Indonesia akan semakin diperhitungkan di mata dunia internasional. Selain remitansi, para tenaga terdidik yang bekerja di rantau tersebut juga suatu saat pasti akan menginginkan kembali ke kampung halaman berkumpul bersama sanak saudaranya.

Reversed Brain Drain

China dan India merupakan salah satu negara yang bisa dijadikan contoh sukses dalam menangani fenomena brain drain. Berdasarkan hasil studi Pan Mohamad Faiz, alumnus Fakultas Hukum University of Delhi, fenomena brain drain justru bisa menguntungkan. Riset yang berjudul “Brain Drain dan Sumber Daya Manusia Indonesia: Studi Analisis terhadap Reversed Brain Drain” di India mengidentifikasi fenomena brain drain yang biasanya terjadi di negara berkembang.

Faiz mengungkapkan agar mendapat manfaat dari brain drain, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang harus berani dan kreatif dalam mengimplementasikan strategi yang didukung secara penuh oleh kebijakan nasional.

“Hal itu bisa dilakukan dengan cara misalnya menyediakan kesempatan pendidikan berkelas dunia, membangun penelitian ilmu pengetahuan dan pengembangan industri, serta pengelolaan keuangan yang berkesinambungan untuk menarik investasi luar,” ujar Faiz kepada Seputar Indonesia.

Menurut dia, China dan India telah bergerak menuju ke arah tersebut dengan menawarkan pendidikan khusus di area yang penting dalam perkembangan pembangunan nasional. Misalnya bidang bioteknologi dan teknologi informasi, diikuti investasi di bidang penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Penelitian nasional sangat ditopang dan dibantu dengan aktivitas jaringan sejagat (global network) dari para peneliti yang tinggal di luar negeri. Selain itu juga perlu didukung agar mampu melakukan transfer pengetahuan dan teknologi (knowledge and technology transfer) secara bertahap.

“Negara berkembang dengan infrastruktur research and development (R&D) seperti India lebih memilih untuk menarik kembali para imigrannya, baik untuk pertambahan pemasukan negara maupun sebagai kontak bisnis, setelah kondisi dalam negerinya benar-benar siap.

Profesional India di negara-negara majutelahpulamenjadipengemudi utama dalam perpindahan ilmu pengetahuan dan modal investasi. Itulah tantangan untuk mengubah brain drain menjadi brain gain bagi Indonesia,” tandasnya. (abdul malik /islahuddin/faizin aslam)

 Sumber: Liputan Periskop Seputar Indonesia – Minggu, 16 Agustus 2009

 Link: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/262727/

Advertisements

2 thoughts on “[NEWS] Bagian IV: Melihat Negeri Naga dan Gajah

  1. Those true.

    Tak jarang kurang dihargai ataupun komitment… May mindset overseas graduated half broad. Sence of belonging pada bangsa sendiri pasti tak akan pernah hilang menyatu seperti oksigen dlm darah. Well different head different type, do best as Indonesian and as indvidualy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s