[NEWS] Bagian I: Menggempur Dunia dari Luar


MENGGEMPUR DUNIA DARI LUAR

brain-drain2Potensi Indonesia tidak hanya sumber daya alam, namun juga sumber daya manusia yang melimpah. Saat ini, puluhan ribu pelajar dan peneliti Indonesia berada di luar negeri.

Sayangnya, potensi mereka tidak bisa dipergunakan secara maksimal. Selama ini ada anggapan yang menyebutkan bahwa keberadaan mereka di luar negeri kurang memberi kontribusi kepada negara. Sebab, masih berkembang mindset bahwa selama mereka tidak kembali ke dalam negeri, pemerintah dan bangsa Indonesia tidak bisa memanfaatkan potensi yang mereka miliki.

Tetapi, mereka punya alasan tersendiri mengapa lebih memilih tinggal di negara lain ketimbang di negeri sendiri. Diantaranya masalah kesejahteraan dan fasilitas untuk mengaplikasikan keilmuan mereka yang masih minim di Tanah Air. Setidaknya, jaringan teknologi dan ilmu pengetahuan, informasi, fasilitas penelitian merupakan beberapa hal yang bisa dimanfaatkan mereka di negeri orang.

Selama ini diketahui bahwa banyak para cendikia Indonesia yang berserakan di negara lain. Karena itu, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di luar negeri, sejak era 1990-an mulai membahas agak serius untuk menghimpun para potensi yang berserak tersebut. Sebab, pada dasarnya mereka ingin mengabdi kepada negara, namun tidak mengerti cara yang efektif.

Belum lagi dengan adanya anggapan miring yang menyebtukan mereka kurang nasionalis. Terutama bagi mereka yang belajar di luar negeri atas beasiswa negara. Niat untuki menyatukan para ilmuan di luar negeri saat ini mulai menemui titik terang dengan akan dibentuknya Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4).

Mantan Ketua PPI di India Pan Mohamad Faiz kepada Seputar Indonesia mengatakan, selain masalah jaringan, pemerintah bisa mengetahui sumber daya yang ada. Untuk mewujudkan hal itu, I4 akan sudah membangun website untuk mendata semua ilmuan.

Dengan data tersebut, pemerintah dan masyarakat Indonesia dapat mengetahui jumlah ilmuah beserta spesifikasi keilmuan, kapasitas hingga biodata diri para peneliti. Ke depan diharapkan dapat mengubah setahap demi setahap brain drain dari transfer of technology and knowledge, brain circulation, reserved brain drain lalu menjadi brain gain.

“Sehingga jika ada hal yang membutuhkan kemampuan mereka, pemerintah dan masyarakat bisa menghubungi dengan mudah,” jelas Faiz. Cara yang sama sudah dilakukan negara lain sejak awal seperti China dan India pada era 1960-an. Para peneliti dari dua negara itu tidak perlu kembali sebelum mereka benar-benar dibutuhkan.

Bahkan ketika orang-orang China dan India mereka kembali dan menggunkan momen yang tepat. China misalnya, para ilmuannya kembali ketika perekonomian Barat mulai terlihat agak goyah. Kemudian China bangkit dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Begitu juga dengan India yang memanfaatkan momen ketika Microsoft membuka laboratorium di negara mereka. Perjalanan brain drain yang cukup lama di India berbuah para ilmuan India terkenal di bidang komunikasi, informasi. Mereka sedikitnya mengusai 8 ribu perusahaan di bidang di kawasan Silicon Valley. Jaringan mereka di luar pun tidak dapat diremehkan.

Gelombang brain drain yang semakin menguat di negara berkembang, memunculkan diaspora yang sangat luas konsekuensinya dari perburuan terhadap kesempatan terbaik bagi negara berkembang. Saat ini di India muncul reversed brain drain yang tidak dapat dipisahkan dari peran dan keuntungan yang diperoleh dari diaspora.

Hal ini menjelma menjadi silent networking yang tersebar ke seluruh dunia. Sehingga jaringan tentang teknologi informasi tidak bisa dilepaskan dari jaringan India yang telah terbentuk ini. Saat ini bukan hanya India dengan IT-nya yang menjadi fenomena.

Banyak disiplin keilmuan dan dispilin dunia kerja yang dikuasai oleh negera-negera tertentu karena jaringan silent networking. Contohnya adalah Filipina yang mengusai dunia keperawatan. Sehingga menembus dominasi mereka dalam dunia ini di seluruh negara sangat sulit. Indonesia pun berpotensi untuk melakukan hal yang sama.

Sebagaimana kesaksian Faiz, di Jerman dia pernah bertemu dengan Ketua Umum Ikatan Nano Teknologi Indonesia. Dia mengatakan saat ini ada lebih 100 ahli nano Indonesia yang tersebar di dunia. Potensi ini sangat luar biasa.

Selain masalah keilmuan yang bisa ditarik sewaktuwaktu ke Indonesia jika negara siap untuk menyediakan “kebutuhan” mereka. Mereka bukanlah orang yang meminta fasilitas muluk-muluk namun sebuah penghormatan dan penghargaan atas profesi mereka dan masa depan. (abdul malik/islahuddin/faizin aslam)

Sumber: Seputar Indonesia – Sabtu, 15 Agustus 2009

Link: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/262732/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s