Membedah Originalism

MEMBEDAH ORIGINALISM

(Tulisan diterbitkan dalam Kolom “Ruang Konstitusi” di MAJALAH KONSTITUSI No. 156, Februari 2020, hlm. 74-75– Download) 

Foto_Page_2Dalam penafsiran konstitusi, setidaknya terdapat dua mahzab utama yang menjadi titik polar perbedaan, yaitu originalism dan non-originalism. Menurut Black’s Law Dictionary (2009), originalism merupakan teori penafsiran yang harus didasarkan pada maksud dari para penyusun dan pengadopsi suatu konstitusi. Originalism ini seringkali juga dipersamakan dengan istilah interpretivism, yaitu sebuah doktrin penafsiran konstitusi yang mengharuskan hakim untuk mengikuti norma atau nilai yang dinyatakan atau tersirat dalam bahasa konstitusi.

Sebaliknya, non-originalism atau noninterpretivism dimaknai sebagai doktrin yang memberikan kelonggaran penafsiran bagi hakim untuk tidak terbatas pada teks konstitusi atau sejarah penyusunannya. Dengan kata lain, hakim dapat memandang norma dan nilai sosial yang berkembang sebagai dasar untuk penilaian konstitusi.

John Harty Ely dalam Democracy and Distrust (1980) mengemukakan bahwa dari perspektif teori konstitusi, pertentangan mengenai pilihan penggunaan pendekatan dalam menafsirkan konstitusi tersebut telah terjadi sejak lama. John Ely termasuk yang mengelompokannya menjadi interpretivisme dan noninterpretivisme. Kelompok pertama percaya bahwa dalam memutuskan masalah-masalah konstitusional, hakim harus membatasi dirinya pada penegakan norma-norma yang dinyatakan atau jelas tersirat dalam konstitusi tertulis.

Sementara itu, kelompok kedua memiliki pandangan yang berlawanan. Mereka meyakini bahwa pengadilan harus melampaui rujukan teks konstitusi dalam menegakkan norma-norma yang tidak dapat ditemukan instrumen hukum lainnya.

Ruang Lingkup Originalism

Menafsirkan konstitusi dengan menggunakan originalism tidaklah sederhana. Pertama, terdapat beberapa metode yang berbeda, antara lain, yaitu textual, original intent, dan original meaning. Kedua, tiap pendekatan juga memiliki cara yang berbeda, sehingga kadangkala menjadi perdebatan tersendiri di kalangan originalist.

Misalnya, Ruti Teitel dalam Original Intent, History and Levy’s Establishment Clause (1990) memperhadapkan antara “Text versus Intent”. Menurutnya, akan menjadi masalah dalam penafsiran konstitusi apabila metode yang digunakan adalah original intent, bukan textual, manakala bahasa dari ketentuan yang ditafsirkan sebenarnya dapat dipahami tanpa harus melihat maksud di balik teks tersebut.

Bagi Teitel, sebagai produk dari proses amendemen konstitusi, teks justru mempunyai otoritas lebih tinggi atas bukti lain dari maksud perumusnya. Sebab pada saat perumusannya, ketentuan yang disetujui adalah teksnya, bukan maksud yang melatarbelakanginya. Persetujuan inilah yang kemudian dinilai mewakili konsensus dari suatu proses perubahan konstitusional yang utuh.

Salah satu tokoh hukum dunia yang memegang teguh aliran originalism, yaitu Antonin Gregory Scalia, Hakim Agung Amerika Serikat. Dalam konteks ini, Justice Scalia lebih cenderung menggunakan pendekatan original meaning, dibandingkan original intent.

Justice Scalia berpandangan sekaligus mengklarifikasi bahwa original meaning yang dimaksud jangan sekadar dimaknai sebagai harapan konkret dari para perumus konstitusi mengenai penerapan dari kata-kata ataupun frasa yang mereka gunakan. Originalism versi Justice Scalia cenderung untuk menafsirkan kata-kata dan frasa tersebut dengan pemahaman yang wajar terhadap teks pada saat ditetapkannya.

Merujuk pada “Original Meaning and Its Limits” yang diterbikan Havard Law Review (2007), posisi Justice Scalia tersebut dapat dikategorikan ke dalam versi yang lebih spesifik berdasarkan argumentasi dasarnya, yaitu: (1) Teks hukum harus ditafsirkan sesuai dengan original meaning; (2) Original meaning dari kata yang bernilai dalam teks hukum adalah perluasan dengan penerapan yang umumnya akan diberikan pada saat teks itu diberlakukan; dan (3) Kata yang bernilai dalam teks hukum tersebut harus ditafsirkan sesuai dengan penerapan yang umumnya juga akan diberikan pada saat berlakunya.

Pendekatan Hermeneutika

Permasalahan hermeneutika dalam penggunaan original intent terletak pada sifat waktunya yang tidak dapat menjelaskan sejarah dan situasi pada saat perumusan konstitusi. Sedangkan, ketika menafsirkan konstitusi pada saat ini, akan sangat dipengaruhi oleh suasana pemeriksaan yang berlangsung di pengadilan, dan bukan suasana pada saat perumusannya.

Karenanya, penggunaan sejarah an sich dari original intent dalam pengujian konstitusionalitas undang-undang dipandang tidak dapat mengungkap konflik mendasar antara teori dan metode hermeneutika dari interpretasi historis. Menurut teori original intent, sejarah dikatakan relevan karena dinyatakan memiliki sifat keberlanjutan.

Seperti halnya originalisme, pendekatan hermeneutika ini pada akhirnya digunakan untuk menelusuri kesinambungan antara masa perumusan dan hari ini. Selain itu, analisis hermeneutika juga mencoba untuk memahami para perumus dalam konteks historisnya, bahkan untuk membedakan mana keadaan yang berubah dan tidak berubah.

Pendekatan seperti inilah yang kemudian turut memengaruhi para originalist untuk tidak secara kaku menafsirkan konstitusi dengan menggunakan kerangka waktu yang terbatas pada saat ketentuan konstitusi dirumuskan. Akan tetapi, hal yang demikian jsutru menjadikan batas antara penggunaan originalism dan non-originalism menjadi kabur. Karena itu, tidak jarang di banyak negara, termasuk di Indonesia, para hakim yang mempunyai kewenangan untuk menafsirkan konstitusi tidak terbelah menjadi dua kubu terpisah antara penganut originalism dan non-originalism.

Penerapan Original Intent

Dalam memutus perkara pengujian undang-undang, Mahkamah Konstitusi (MK) tidak jarang menggunakan pendekatan originalism. Misalnya dalam perkara terkait dengan penyelenggaraan Pemilu serentak, MK secara jelas menggunakan metode original intent dalam menafsirkan UUD 1945.

Awalnya, MK menyatakan dalam Putusan Nomor 51-52-59/PUU-VI/2008 bertanggal 18 Februari 2009 bahwa pemilihan umum anggota lembaga perwakilan yang dilaksanakan lebih dahulu dari pemilihan presiden dan wakil presiden merupakan praktik yang konstitusional. Namun, MK kemudian mengubah sikapnya melalui Putusan Nomor 14/PUU-XI/2013 bertanggal 23 Januari 2013 dengan menyatakan bahwa pemilu legislatif yang diselenggarakan lebih dahulu dibandingkan pemilu presiden menjadi inkonstitusional.

Alasannya, setelah menelusuri original intent dari para perumus perubahan UUD 1945, ditemukan bahwa pelaksanaan pemilu harus dilakukan secara serentak, dan bukan terpisah. Akhirnya pada 2019 diselenggarakan pemilu serentak antara pemilu presiden, anggota DPR, anggota DPR, dan anggota DPRD Provinsi serta Kabupaten/Kota. Pemilu serentak ini dikenal dengan istilah “Pemilu Lima Kotak”.

Namun demikian dalam Putusan MK yang terbaru, yaitu Putusan Nomor 55/PUU-XVII/2019 bertanggal 11 Februari 2020, MK menelusuri kembali makna “pemilihan umum serentak” secara lebih saksama berdasarkan risalah-risalah perubahan UUD 1945. Hasilnya, MK menyimpulkan bahwa “Pemilu Lima Kotak” hanyalah salah satu varian di antara model pemilu serentak yang diusulkan pada saat pembahasan perubahan UUD 1945. Artinya, terbuka varian model pemilu serentak lainnya yang dapat digelar oleh Komisi Pemilihan Umum tanpa harus melanggar konstitusi.

Sebagai batasannya, MK menyatakan varian model pemilu serentak tersebut harus dalam kerangka untuk memperkuat sistem pemerintahan presidensial, yakni apabila keserentakan tersebut tetap dilakukan terhadap pemilu anggota lembaga perwakilan (DPR, DPD, dan DPRD) dengan pemilu presiden dan wakil presiden. Penguatan sistem presidensial ini sesuai juga dengan kesepakatan para pengubah UUD 1945.

Dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut maka putusan ini menjadi salah satu contoh yang sangat kental penerapan original intent yang dilakukan oleh para Hakim Mahkamah Konstitusi.

* Pan Mohamad Faiz, Ph,D. Peneliti di Mahkamah Konstitusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s